[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Cinta Golf meski Tak Bisa
DUNIA golf identik dengan kalangan kelas atas. Silvia, Fitri, Diah, dan Esra bekerja di bidang yang berkaitan langsung dengan golf. Berikut cerita mereka.
---
Tahu dari mana tentang olahraga golf?
Diah: Aku tahu golf sejak kuliah. Soalnya, temanku sering main golf. Aku juga sering nonton acara televisi golf.
Fitri: Aku dulunya SPG sebuah produk yang kebanyakan pembelinya adalah pemain golf. Dari situ, aku sering
ngobrol dengan para pemain golf. Jadi, sedikit demi sedikit tahu seluk beluk golf.
Esra: Kalau aku, belajar dari pacarku. Karena dia pemain golf di Bali.
Silvia: Kebetulan aku tinggal di perumahan dengan
view lapangan golf sejak kecil. Jadi,
nggak sengaja lihat orang main golf. Selain itu, kakak ipar saya pelatih golf, jadi klop.
Bekerja di bidang golf, Anda bisa main golf?
Diah: Aku
nggak bisa dan
nggak pernah belajar. Menurutku, golf cukup rumit.
Fitri: Jujur, aku
nggak bisa main golf. Tapi, aku tahu tentang istilah-istilah umum dalam golf.
Esra: Pernah
sih belajar sedikit waktu tinggal di Bali. Tapi, sudah lupa. Kalau disuruh main lagi, pasti
nggak bisa.
Silvia: Aku bisa.
Menjadi sales golf, pernah turun ke lapangan?
Silvia: Aku setiap hari, sepertinya, harus ke lapangan. Masalahnya, banyak klien yang bisa ditemui di lapangan.
Fitri: Aku belum. Yang langsung ke lapangan golf
ya tugas
caddy.
Diah: Aku belum pernah. Biasanya sampai starter (tempat awal pemain golf akan bermain). Biasanya hanya
say hello kepada mereka.
Esra: Pernah sampai lapangan. Sebab, setiap ada turnamen golf internal, aku selalu menjadi juri khusus kostum. Jadi, aku mesti keliling untuk lihat baju para pemain.
Menggaet member dari mana?
Diah: Biasanya, aku lewat
travel agent. Di sana
kan disediakan tempat untuk berbagai promosi lewat
flyer dan brosur.
Fitri: Ke sekolah-sekolah. Aku datangi mereka satu per satu, lantas presentasi tentang
edutainment sport untuk anak sekolah. Terutama, memperkenalkan golf sejak dini.
Esra: Aku lewat
member yang sudah kukenal.
Silvia: Aku lebih sering mendekati secara personal. Misalnya, aku menjaga hubungan baik dengan
member. Dari situ, mereka memperkenalkan teman mereka kepada kami.
Golf identik dengan permainan para bos. Ada pengalaman unik bersama mereka?
Fitri: Aku paling sebal kalau obrolan bukan tentang golf. Padahal, jelas-jelas topik yang dibahas golf.
Diah: Aku sering diejek karena
nggak bisa main golf. Bagaimana lagi,
nggak aku anggap serius.
Esra: Biasanya, mereka mengajak main golf.
Silvia: Aku pernah dimaki-maki. Karena aku berusaha sabar, dia minta maaf. Selanjutnya, kami malah berteman baik hingga sekarang.
Pernah main golf bersama pasangan?
Diah: Belum. Sebab, aku dan pacarku
nggak bisa main golf. Kalau makan malam dengan
view lapangan golf, sudah pernah.
Silvia: Kami sama-sama
nggak bisa golf. Kapan-kapan,
pengin juga
sih main golf dengan pacar.
Fitri: Aku juga belum pernah. Pacarku
nggak terlalu hobi golf.
Esra: Pernah beberapa kali. Tapi,
nggak main serius. Setelah pindah dari Bali ke Surabaya, belum pernah main golf lagi.
Apakah menyediakan budget khusus untuk penampilan?
Diah: Setiap bulan, aku menyisihkan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah. Paling banyak untuk beli kosmetik.
Silvia: Aku ikut perawatan kulit wajah. Jadi, aku harus menyisihkan hingga dua juta rupiah setiap bulan. Itu sudah termasuk membeli t-shirt.
Esra: Kalau pengen beli baju
ya langsung beli
aja. Begitu juga peralatan kosmetik dan perawatan rambut.
Fitri: Aku lebih banyak membeli kosmetik daripada baju.
(upi/c11/nda)
---
Biodata Chat
Esra Bethania Patricia
(Esra)
Surabaya, 9 November 1983
Single
Sales Golf Ciputra Golf, Club & Hotel
Alfitria Ningdiah
(Fitri)
Surabaya 25 Mei 1986
Single
Outbound & MICE Ciputra Golf, Club & Hotel
Diahningtyas P.
(Diah)
Surabaya, 30 Mei 1986
Single
Hotel-Villa & Banquet Ciputra Golf, Club & Hotel
Silvia Kumala Sari
(Silvia)
Surabaya, 25 Oktober 1977
Single
Sales & Marketing Manager Ciputra Golf, Club & Hotel