YOUR ADS HERE

Kamis, 24 Juni 2010

Just watched

Green Crucifixion on ITV


Just watched  - a slightly bizarre episode of Tonight with Trevor McDonald. It consisted of a number of families who are trying to make a difference in their eco-footprint being torn apart by a panel of media-friendly experts.

It was good to see eco-living on primetime telly, and I suppose it made the valid point that doing a little ain't enough on the grand scale of things, but it worried me that the entire ITV audience will say to themselves "Well, what's the point?".

The programme did fail to live up to its billing that some green efforts could cause more problems than they solve, except for a poor lass who had been on an eco-holiday every year in far flung parts. Been there, done that myself - and I couldn't help thinking the panel probably had too.

BTW: How much does our Trev get paid for his 10 seconds of intro and outro?

Rabu, 23 Juni 2010

Mengikuti Latihan Komunitas Karaoke Hai Ou

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Mengikuti Latihan Komunitas Karaoke Hai Ou
MALAM itu M.F. Nancy tampak bersemangat berlatih karaoke. Suara perempuan berambut panjang itu cukup merdu menyanyikan sebuah lagu Mandarin. Rekan-rekan wanita 50 tahun itu pun melakukan hal yang sama.

Layaknya orang yang akan mengikuti perlombaan, anggota Komunitas Karaoke Hai Ou antre bernyanyi Kamis malam (10/6). Mereka rutin berlatih di kompleks Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tjong Hok Kiong Sidoarjo. Yayasan itulah yang menaungi komunitas karaoke tersebut.

Tampak sebagian duduk rapi di kursi sambil berbincang-bincang. Sebagian lainnya berdendang lirih sambil berusaha menghafal lagu. Ada juga yang berdansa. "Kami di sini tidak hanya bisa menyanyi, tapi juga menari dan berdansa," tutur Nancy. "Lihat mereka, menari juga kan," sambungnya.

Memang, anggota Hai Ou memiliki banyak keahlian. Mereka merupakan orang-orang yang aktif berkegiatan. Meski sebagian besar bekerja, mereka berupaya hadir saat ada jadwal latihan. Bahkan, ketika tidak ada jadwal wajib latihan seperti minggu lalu, sebagian anggota tetap datang. "Sebenarnya hari ini libur latihan," kata A. Lindayani, mantan ketua Hai Ou. "Tapi, kami tetap meluangkan waktu untuk latihan," sambungnya.

Sebab, para anggota sudah menganggap karaoke sebagai rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bahkan, banyak yang berpendapat berkaraoke membuat jiwa tenteram. "Menghilangkan kelelahan setelah bekerja," imbuh Maria Vincentia.

Awalnya, komunitas ini anggotanya sangat sedikit. Hanya 15 orang. Lama kelamaan, jumlah anggota bertambah banyak hingga 45 orang. "Yang aktif, sekitar 40 orang. Yang lainnya, karena sibuk ya jarang datang latihan," tuturnya.

Komunitas tersebut berdiri pada 6 November 2002. Saat ulang tahun pertama dan ketujuh, mereka merayakannya. Sesuai dengan bentuk komunitas, acara ulang tahun itu diisi dengan menyanyi bersama

Para anggota Hai Ou berlatih di bawah bimbingan Tan Suk Ing. Mereka memanggil guru agar vokal mereka benar-benar matang. "Kami semua di sini berangkat dari pengetahuan menyanyi yang minim," ujar Bambang Irawan, wakil ketua Komunitas Karaoke Hai Ou.

Kini para anggota komunitas bisa menyanyi lebih bagus. Apalagi, para anggota saling mengingatkan dan menilai. Jika ada suara yang fals atau nada yang salah, mereka langsung berkomentar. "Kalau diingatkan atau dinilai, ya nggak ada yang marah," ungkap Lindayani. Sebab, menurut wanita 57 tahun itu, semua anggota sudah paham bahwa tujuan penilaian tersebut bukan untuk menjatuhkan rekan. (may/c2/nda)

Tentang Komunitas Karaoke Hai Ou

Latihan dilakukan setiap Kamis mulai pukul 19.00-23.00.

Komunitas itu berdiri pada 6 November 2002.

Awalnya, anggotanya hanya 15 orang.

Kini anggotanya lebih dari 40 orang.

Anggota grup juga pandai menari. Saat latihan, ada yang berdansa di belakangnya.

Selasa, 22 Juni 2010

Silvia Kumala Sari

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Cinta Golf meski Tak Bisa
DUNIA golf identik dengan kalangan kelas atas. Silvia, Fitri, Diah, dan Esra bekerja di bidang yang berkaitan langsung dengan golf. Berikut cerita mereka.

---

Tahu dari mana tentang olahraga golf?

Diah: Aku tahu golf sejak kuliah. Soalnya, temanku sering main golf. Aku juga sering nonton acara televisi golf.

Fitri: Aku dulunya SPG sebuah produk yang kebanyakan pembelinya adalah pemain golf. Dari situ, aku sering ngobrol dengan para pemain golf. Jadi, sedikit demi sedikit tahu seluk beluk golf.

Esra: Kalau aku, belajar dari pacarku. Karena dia pemain golf di Bali.

Silvia: Kebetulan aku tinggal di perumahan dengan view lapangan golf sejak kecil. Jadi, nggak sengaja lihat orang main golf. Selain itu, kakak ipar saya pelatih golf, jadi klop.

Bekerja di bidang golf, Anda bisa main golf?

Diah: Aku nggak bisa dan nggak pernah belajar. Menurutku, golf cukup rumit.

Fitri: Jujur, aku nggak bisa main golf. Tapi, aku tahu tentang istilah-istilah umum dalam golf.

Esra: Pernah sih belajar sedikit waktu tinggal di Bali. Tapi, sudah lupa. Kalau disuruh main lagi, pasti nggak bisa.

Silvia: Aku bisa.

Menjadi sales golf, pernah turun ke lapangan?

Silvia: Aku setiap hari, sepertinya, harus ke lapangan. Masalahnya, banyak klien yang bisa ditemui di lapangan.

Fitri: Aku belum. Yang langsung ke lapangan golf ya tugas caddy.

Diah: Aku belum pernah. Biasanya sampai starter (tempat awal pemain golf akan bermain). Biasanya hanya say hello kepada mereka.

Esra: Pernah sampai lapangan. Sebab, setiap ada turnamen golf internal, aku selalu menjadi juri khusus kostum. Jadi, aku mesti keliling untuk lihat baju para pemain.

Menggaet member dari mana?

Diah: Biasanya, aku lewat travel agent. Di sana kan disediakan tempat untuk berbagai promosi lewat flyer dan brosur.

Fitri: Ke sekolah-sekolah. Aku datangi mereka satu per satu, lantas presentasi tentang edutainment sport untuk anak sekolah. Terutama, memperkenalkan golf sejak dini.

Esra: Aku lewat member yang sudah kukenal.

Silvia: Aku lebih sering mendekati secara personal. Misalnya, aku menjaga hubungan baik dengan member. Dari situ, mereka memperkenalkan teman mereka kepada kami.

Golf identik dengan permainan para bos. Ada pengalaman unik bersama mereka?

Fitri: Aku paling sebal kalau obrolan bukan tentang golf. Padahal, jelas-jelas topik yang dibahas golf.

Diah: Aku sering diejek karena nggak bisa main golf. Bagaimana lagi, nggak aku anggap serius.

Esra: Biasanya, mereka mengajak main golf.

Silvia: Aku pernah dimaki-maki. Karena aku berusaha sabar, dia minta maaf. Selanjutnya, kami malah berteman baik hingga sekarang.

Pernah main golf bersama pasangan?

Diah: Belum. Sebab, aku dan pacarku nggak bisa main golf. Kalau makan malam dengan view lapangan golf, sudah pernah.

Silvia: Kami sama-sama nggak bisa golf. Kapan-kapan, pengin juga sih main golf dengan pacar.

Fitri: Aku juga belum pernah. Pacarku nggak terlalu hobi golf.

Esra: Pernah beberapa kali. Tapi, nggak main serius. Setelah pindah dari Bali ke Surabaya, belum pernah main golf lagi.

Apakah menyediakan budget khusus untuk penampilan?

Diah: Setiap bulan, aku menyisihkan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah. Paling banyak untuk beli kosmetik.

Silvia: Aku ikut perawatan kulit wajah. Jadi, aku harus menyisihkan hingga dua juta rupiah setiap bulan. Itu sudah termasuk membeli t-shirt.

Esra: Kalau pengen beli baju ya langsung beli aja. Begitu juga peralatan kosmetik dan perawatan rambut.

Fitri: Aku lebih banyak membeli kosmetik daripada baju. (upi/c11/nda)

---

Biodata Chat

Esra Bethania Patricia

(Esra)

Surabaya, 9 November 1983

Single

Sales Golf Ciputra Golf, Club & Hotel

Alfitria Ningdiah

(Fitri)

Surabaya 25 Mei 1986

Single

Outbound & MICE Ciputra Golf, Club & Hotel

Diahningtyas P.

(Diah)

Surabaya, 30 Mei 1986

Single

Hotel-Villa & Banquet Ciputra Golf, Club & Hotel

Silvia Kumala Sari

(Silvia)

Surabaya, 25 Oktober 1977

Single

Sales & Marketing Manager Ciputra Golf, Club & Hotel

Senin, 21 Juni 2010

Tunjangan Guru yang Lolos Sertifikasi Masih Belum Jelas

Tunjangan Guru yang Lolos Sertifikasi Masih Belum Jelas
SURABAYA - Hingga saat ini pencairan tunjangan profesi pendidik (TPP) bagi 10.137 guru yang lolos sertifikasi kuota 2006 sampai 2009 di Surabaya masih belum jelas. Padahal, peraturan menteri keuangan (permenkeu) untuk mengucurkan tunjangan satu kali gaji pokok itu sudah terbit sejak minggu lalu.

Ketidakjelasan pencairan TPP tersebut membuat sejumlah guru resah. "Kami sudah menunggu-nunggu pencairan tunjangan sertifikasi. Apalagi, ini menjelang tahun ajaran baru. Banyak guru yang mengharapkan pencairan itu segera terwujud," ujar Wisnu Pradata, guru SMKN 2 Surabaya, kemarin (12/6). Dia mengatakan, tahun ini dua anaknya akan masuk SMA dan SD.

Terkait dengan hal tersebut, sebenarnya sudah ada Permenkeu Nomor S.376/MK.7/2010. Surat itu memerintahkan pencairan tunjangan untuk guru di Surabaya. Setidaknya, negara mengalokasikan Rp 182,7 miliar untuk membayar tunjangan para guru yang lolos sertifikasi pendidikan tersebut.

Belum sampai tunjangan turun, kata Wisnu, para guru sudah diterpa kebimbangan. Di antaranya, mereka mendapat informasi bahwa rencananya tunjangan itu tak lagi ditransfer melalui rekening para guru, yang selama ini terdaftar di Bank Rakyat Indonesia (BRI), namun ke rekening bank lain. "Apa benar demikian kami belum tahu. Kami meminta kepastian kepada dispendik (dinas pendidikan)," jelas pria yang juga koordinator guru yang sudah mengikuti sertifikasi tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Ketenagaan Dispendik Surabaya Yusuf Masruh menerangkan bahwa saat ini pihaknya tengah memproses pencairan tunjangan tersebut. Hanya, pihaknya tak berani menjanjikan waktu pencairan TPP itu.

Pihaknya juga berencana membicarakan bersama Kepala Dispendik Sahudi soal pergantian rekening para guru tersebut. "Yang pasti, hingga saat ini belum ada perintah dari kami untuk mengganti rekening. Kami akan membicarakannya dengan pimpinan," jelasnya.

Yusuf memaparkan bahwa pihaknya akan memberikan pengumuman resmi kepada para guru apabila ada kebijakan terbaru. "Para guru tak usah resah soal ini. Kami akan memberikan informasi tepat dan cepat," tuturnya.

Minggu, 20 Juni 2010

57 Perusahaan Meramaikan Surabaya Printing Expo 2010

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
57 Perusahaan Meramaikan Surabaya Printing Expo 2010
SURABAYA - Suasana hall lantai satu Grand City tadi malam begitu semarak. Poster-poster berukuran besar terpampang di sana-sini. Mesin-mesin cetak berukuran besar juga terlihat memenuhi setiap sudut ruangan.

Sejak Kamis (10/6) hingga tadi malam (13/6), pameran bertajuk Surabaya Printing Expo 2010 dilangsungkan di pusat perbelanjaan yang belum lama dibangun tersebut. Sebanyak 57 perusahaan percetakaan turut meramaikan acara tahunan itu. Di antaranya, PT Dell Pan Tunggal Corporation, PT Wujud Unggul, PT Eka Maju Mesinindo, PT Sansin, Blessing Printing, dan PT Speed Digital Banner.

''Kali ini kami memamerkan mesin cetak berukuran 4,2 meter. Ini belum pernah ada di pasaran,'' ungkap Mulyadi Praminta, direktur PT Speed Digital Banner.

Menurut Daud D. Salim, ketua penyelenggara pameran, acara tahunan ini merupakan wadah bagi perusahaan percetakan untuk memperkenalkan produk-produk terbarunya. Kegiatan semacam itu juga menjadi tolok ukur kemajuan industri percetakan di Surabaya dan Jawa Timur.

''Kami menilai, industri percetakan maju seiring majunya industri-industri lain,'' ungkapnya. Sebab, industri lain membutuhkan percetakan sebagai media promosi. Bisa berupa pamflet, banner, baliho, dan sebagainya.

Di samping pameran, ada talk show bertajuk Prepress and Press Talk about Printing Standard PSO/ISO 12647-2. Talk show tersebut membahas cara membuat percetakan di Indonesia bisa mendapat pengakuan internasional. Talk show diadakan pada Sabtu (12/6) dan Minggu (13/6).

Sejumlah praktisi percetakan dan media menjadi pembicara dalam talk show tersebut. Di antaranya, Herman Pratomo (Asosiasi Teknologi Grafika dan Media Indonesia), Sugeng Budi Raharjo (Gramedia/Kompas), Junaedi (Temprina/Jawa Pos), dan Kikie Nurcholik (Hostmann Steinberg).

''Saya ke sini untuk lihat-lihat saja, menambah wawasan tentang percetakan,'' ungkap Bambang Darmawan, salah seorang pengunjung. Dia mengaku takjub melihat mesin pelipat buku yang dipamerkan PT Wujud Unggul.

Daud menjelaskan, pihaknya berencana mengadakan pameran serupa tahun depan dengan konsep yang lebih baru. Yakni, mempersilakan perusahaan percetakan memamerkan hasil cetakan masing-masing. Misalnya, Temprina dipersilakan memamerkan buku-buku yang sudah dicetak.

''Tahun depan, kami buat wadah khusus untuk pameran hasil-hasil percetakan secara utuh. Kalau sekarang kan fokusnya masih ke alat cetak,'' ujar pria asal Kalimantan Barat tersebut. (rio/c5/nw)

 

Sabtu, 19 Juni 2010

Arumi Bachsin Curi Perhatian Pengunjung The Mega Wedding

Arumi Bachsin Curi Perhatian Pengunjung The Mega Wedding
SURABAYA - Arumi Bachsin mencuri perhatian pengunjung pameran The Mega Wedding di Convention Hall Tunjungan Plaza kemarin (12/6). Cewek yang beberapa waktu lalu menjadi sorotan media setelah kabur dari rumahnya itu berlenggak-lenggok di atas catwalk memeragakan busana pengantin rancangan Heru Willy Bridal Salon.

Cewek 16 tahun itu ramah melayani sapaan penggemar dan permintaan foto bersama. Bahkan, sesekali dia menimpali ketika ada yang mengajaknya berbicara dengan bahasa Jawa. "Aku bisa bahasa Jawa sedikit-sedikit," kata cewek yang memilih menjalani homeschooling tersebut. "Tapi, tadi nggak tahu apa artinya cingkrang," goda Willy Tanaka yang membuatkan busana pengantin khusus untuknya.

Menurut Willy, Arumi merupakan sosok yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Karakternya yang ramah dan ceria sangat menonjol. Hal itu mengilhami Willy untuk membuat busana bergaya ball gown yang kemarin dikenakan Arumi. Busana berwarna gold tersebut menampilkan kesan ceria dan girlie dengan taburan 30 pita plus aksen kerut dari teknik smock di bagian bawah.

Pita yang dipakai penuh dengan detail. Willy menggunakan dua tumpuk pita dari bahan yang sama dengan busana. Pada lapisan pertama, kain dibiarkan polos. Untuk lapisan kedua, kain diolah dengan teknik plead hingga membentuk tekstur bergelombang. Pita lantas diberi sentuhan tebaran kristal swarovski. "Saya memang suka yang detail begitu. Rumit, tapi hasilnya bagus," katanya.

Karena banyak bermain smock, Willy tak menggunakan bahan satin duchess yang biasanya dipakai untuk busana pengantin. Dia lebih memilih tafeta sutra yang lebih lentur. Untuk mempermanis busana yang diberi nama Sparkling Ribbon tersebut, Willy tak menggunakan tile. Namun, dia memasang embroidery benang emas yang ditimpa dengan payet dan kristal swarovski berwarna senada.

Untuk tata rias wajah Arumi, Heru Tedja dari Heru Willy Bridal Salon memilih warna-warna yang soft. Menurut dia, wajah Arumi yang cantik tidak membutuhkan banyak koreksi. Itu memudahkannya untuk berkreasi. "Tata rias pengantin itu harus bisa mengoreksi kekurangan wajah agar terlihat cantik, tapi tetap mempertahankan karakter orangnya. Jadi, tidak asal menor," katanya.

Aksi panggung Arumi merupakan aksi puncak pameran yang diselenggarakan Asosiasi Pengusaha Perlengkapan Pernikahan (AP3). Pameran yang berlangsung 9 Juni hingga 13 Juni tersebut menghadirkan berbagai pernak-pernik yang berkaitan dengan pernikahan. Mulai undangan, dekorasi, dokumentasi, gaun pengantin, hingga hiburan untuk mengisi pesta

Jumat, 18 Juni 2010

Kemenag Lobi DPR agar Setujui Rencana Kenaikan BPIH 2010

Kemenag Lobi DPR agar Setujui Rencana Kenaikan BPIH 2010
Kemenag Lobi DPR agar Setujui BPIH

JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) terus melobi DPR agar menyetujui rencana kenaikan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 2010. Kemenag beralasan, dengan kenaikan BPIH USD 133, pelayanan bagi jamaah akan ditingkatkan tanpa kecuali.

Sebab, komponen BPIH itu dinilai telah memenuhi standar prosedur pembiayaan di sejumlah sektor pelayanan haji dan manfaatnya langsung dirasakan para jamaah. ''Komitmen meningkatkan pelayanan itu sudah kami buktikan melalui pemondokan yang letaknya lebih dekat dengan Masjidilharam,'' ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Abdul Ghafur Djawahir kemarin (12/6).

Sebelumnya, sejumlah komponen BPIH disepakati Kemenag dan DPR. Terutama, biaya yang dibebankan kepada jamaah (direct cost). Misalnya, biaya pelayanan (general service) di Arab Saudi USD 276,6 per jamaah. Komponen lain yang juga disepakati adalah biaya angkutan darat dan administrasi. Biaya tersebut tidak bisa ditawar karena sesuai kebijakan pemerintah Saudi. Besarnya ditetapkan 1.500 riyal atau USD 405.

Menurut Ghafur, BPIH yang diajukan pemerintah sudah memenuhi kriteria ideal. Sebab, tim perumus komponen BPIH bekerja maksimal agar tidak ada pos yang merugikan jamaah. Pihaknya kini juga fokus menuntaskan problem yang mengancam kelancaran pelaksanaan haji. Misalnya, jamaah haji nonkloter yang bisa membebani anggaran pemerintah.

''Seperti tahun-tahun sebelumnya, haji nonkloter itu lebih banyak telantar dan kehabisan bekal. Jadi, anggaran dan pelayanan bagi jamaah haji resmi terganggu dengan kehadiran mereka,'' terang Ghafur.

Pada 2009, tercatat 3.750 jamaah haji ilegal telantar di Arab Saudi. Mereka berangkat dengan visa turis dan masuk melalui berbagai negara tetangga Saudi karena ingin berhaji tanpa terjebak daftar tunggu (waiting list). ''Jadi, mereka tidak terdaftar jamaah haji reguler maupun khusus,'' jelasnya.

Di tempat terpisah, Garuda Indonesia telah menyiapkan 15 pesawat berbadan lebar untuk memberangkatkan calon jamaah haji (CJH) Indonesia. Sebagian pesawat itu milik Garuda. Ada juga yang disewa dari Amerika Serikat, Eropa, dan Singapura. Jenis pesawatnya adalah Boeing 747, Boeing 767, dan Airbus 330. ''Jenis-jenis pesawat itu sudah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan Kementerian Agama,'' ujar Dirut Garuda Emirsyah Satar.

Dia menyatakan, pesawat yang disiapkan tersebut telah diremajakan. Yang tertua baru berusia 10 tahun karena kebanyakan diproduksi pasca-2000. Bahkan, di antara pesawat haji itu, disiapkan pula pesawat buatan 2010. ''Ini komitmen kami untuk pelayanan,'' tegasnya.

Soal permintaan agar Garuda menurunkan margin keuntungan biaya haji, dia menolak berkomentar. Dia menyatakan hal tersebut akan dibahas secara internal sebelum disampaikan kepada publik.

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding mengungkapkan, pihaknya akan terus mendorong supaya biaya ibadah haji diturunkan. Menurut dia, komponen BPIH yang masih mungkin diturunkan adalah biaya penerbangan.

Dia menyebutkan, tawaran Garuda untuk menurunkan biaya penerbangan sekitar USD 18 per jamaah masih belum final. Pengurangan juga akan diupayakan dari banyak komponen. Misalnya, biaya petugas, seragam, asuransi, dan beban biaya sejenis.

''Termasuk, potensi pembiayaan haji melalui subsidi silang dan dari bunga simpanan biaya haji yang jumlahnya diperkirakan Rp 2,1 triliun,'' ungkapnya