YOUR ADS HERE

Kamis, 08 Juli 2010

Polda Kepri Sita 2.390 Ponsel Tak Berizin

[ Sabtu, 12 Juni 2010 ]
Polda Kepri Sita 2.390 Ponsel Tak Berizin
BATAM - Polda Kepulauan Riau (Kepri) merilis penyitaan 2.390 unit telepon seluler (ponsel) kemarin (11/6). Ribuan ponsel itu disita jajaran Ditpolair Polda Kepri Kamis (10/6) karena tidak dilengkapi izin kepabeanan.

''Kami mengamankan satu unit mobil bernopol BP 1771 XG di Sekupang. Di dalam mobil itu kami temukan 30 kotak berisi ponsel,'' tutur Kabidhumas Polda Kepri Anggaria didampingi Kasigakkum Polair AKP Adi Kuncoro di Kantor Ditpolair Sekupang kemarin.

Anggaria menambahkan, sopir mobil itu, Azwan bin Abdul Samad, telah dimintai keterangan. Dia mengatakan, ponsel tersebut dibawa dari Simpang Jam dan akan dikirim ke Pekanbaru melalui Pantai Tanjungpinggir, Sekupang. ''Kami sedang menyelidiki pemilik barang itu yang berinisial A dan berada di Nagoya,'' ujarnya.

Mobil dan seluruh ponsel tersebut kini diamankan di ruang Kasigakkum sebagai barang bukti. ''Kami tidak bisa menahan sopir pembawa ponsel tersebut. Sebab, ini kasus kepabeanan. Minggu depan barang bukti itu kami serahkan ke bea cukai setelah pemilik kami amankan,'' ujarnya. (cha/jpnn/c4/soe)

Rabu, 07 Juli 2010

Kanal Pulau Serangan dan Bali Tertutup, Ribuan Ikan Mati

[ Jum'at, 11 Juni 2010 ]
Kanal Pulau Serangan dan Bali Tertutup, Ribuan Ikan Mati
DENPASAR - Ribuan ekor ikan mati memenuhi kanal yang memisahkan Pulau Serangan dan Bali kemarin (10/6). Diduga, ribuan ikan itu mati karena saluran yang menghubungkan kanal tersebut ke laut tertutup.

Pantuan di tempat kejadian menyebutkan, ribuan ikan jenis lemuru (sardinella lemuru) dan bandeng (chanos-chanos) mengambang memenuhi permukaan kanal selebar 20 meter tersebut. Di ujung utara kanal, air tampak berwarna kemerahan. Sedangkan di bagian selatan berwarna kehijauan.

Kanal sepanjang dua kilometer itu dibangun tujuh tahun lalu untuk memisahkan Pulau Serangan dan kawasan Bali Turtle Island Development (BTID). Awalnya, di ujung utara kanal tersebut terdapat lubang yang menyambungkan kanal dengan laut di sekitar Pura Sakenan.

Namun, sejak lima bulan lalu, lubang tersebut tertutup karena tanah di atasnya ambrol. Warga menduga, itulah yang menyebabkan ribuan ikan di kanal tersebut mati. Sebab, sirkulasi air tidak jalan. Dampaknya, suhu air di kanal menjadi panas. ''Ini sepertinya ikan yang paling kuat bertahan. Saat ada hujan kemarin, ikan normal,'' terang Made Wija, warga Pulau Serangan.

Sebelumnya, kata Wija, ikan di kanal itu pernah juga mati. Namun, ribuan ikan mati seperti yang terlihat kemarin baru terjadi kemarin. ''Tadi (kemarin, Red) pagi lebih parah lagi,'' timpal Nyoman Widastra, pria asal Tabanan, saat ditemui di kanal tersebut kemarin sore.

Warga berharap, pihak yang bertanggung jawab segera memperbaiki saluran yang tertutup. Menurut mereka, kanal itu belakangan seperti diabaikan. Padahal, bila bila salurann yang tertutup itu dibiarkan, warga khawatir ekosistem akan terganggu.

''Siapa pun yang bertanggung jawab atas kanal ini, tolong kami dibantu,'' keluh Wija, yang mengaku sering me­mancing dan mandi di kanal itu. (fer/jpnn/c4/soe)

Selasa, 06 Juli 2010

Kucing Menyusui Anak Musang di Banyumas

[ Jum'at, 11 Juni 2010 ]
Kucing Menyusui Anak Musang di Banyumas
NANYUMAS - Kucing betina itu tak beda dengan kucing lain. Hewan tersebut memang kucing kampung biasa. Yang tak biasa, kucing itu bukannya menyusui anak kucing, melainkan anak musang. Itulah kucing milik Sunardi, 39, warga Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Banyumas.

Menurut Sunardi, musang itu dia temukan di dekat kolam ikan miliknya tiga bulan lalu. Tak jelas bagaimana awalnya, anak musang tersebut ternyata ikut menyusu kepada kucing peliharaan Sunardi, yang kebetulan baru melahirkan dua anak.

"Yang saya tak habis pikir, induk kucing itu tidak menolak. Padahal, anak luwak menyusu dengan lahap. Kelewat lahap, malah, sampai dua anak kucing itu tidak kebagian air susu dan mati,'' beber Sunardi kemarin (10/6).

Sampai sekarang, kata Sunardi, induk kucing itu masih menyusui si anak musang. ''Pokoknya, setiap melihat induk kucing rebahan, anak luwak itu langsung menyusu," ujarnya.

Bukan hanya menyusu, anak musang itu juga menirukan gerak-gerik si induk kucing. ''Kebiasaan melompat-lompat yang sering kita lihat pada anak kucing bisa terlihat pada anak luwak itu,'' kata Sunardi.

Bahkan, seperti umumnya kucing peliharaan, anak musang tersebut juga suka bercanda dengan orang-orang yang ditemui. Tak jarang anak musang itu menggelayut di tangan atau pundak orang.

Karena keunikan itu, banyak warga luar desa yang merayu Sunardi agar mau menjual anak musang temuannya tersebut. Namun, Sunardi menolak. Apalagi, anak ketiga Sunardi sangat menyukai anak musang yang dinamai Bagong itu. Bahkan, si kecil sering membawa anak musang tersebut tidur bersama di kasur.

''Saya akan pelihara anak luwak itu sampai besar. Jika tumbuh normal, besarnya bisa dua kali lipat induk kucing yang menyusuinya,'' imbuh lelaki yang dikenal sebagai pemilik toko onderdil motor itu. (amr/jpnn/c3/soe)

Senin, 05 Juli 2010

Mencermati Keterlibatan Birokrasi dalam Pilkada

[ Selasa, 18 Mei 2010 ]
Mencermati Keterlibatan Birokrasi dalam Pilkada
Tahun ini, demokrasi lokal kembali bergeliat melalui rangkaian penyelenggaraan 244 pilkada. Posisi birokrasi daerah ternyata tidak bersikap dalam pilkada. Seperti apa faktanya? Berikut ulasan Wawan Sobari, peneliti The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).

---

LIPI pernah merilis hasil studi tentang netralitas birokrasi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung 2005. Penelitian itu menyebutkan sejumlah faktor yang mendorong birokrasi berpolitik dalam pilkada. Di antaranya, kepentingan pegawai negeri sipil (PNS) untuk memobilisasi karirnya secara cepat, kuatnya hubungan patron-client, dan adanya peran birokrasi bayangan (shadow bureaucracy).

Keinginan untuk memperoleh jabatan membuat PNS mau berspekulasi menjadi bagian dari tim sukses. Dengan harapan, seandainya kandidat yang didukung menang, para birokrat tersebut mendapatkan keuntungan perolehan jabatan. Demi balas budi, biasanya kenaikan pangkat tersebut bisa menabrak aturan kepangkatan.

Birokrasi bayangan itu biasanya terdiri atas pengusaha, kontraktor, ormas, dan LSM yang menjadi kelompok pemenangan kandidat. Menurut tim peneliti LIPI, dalam praktiknya, kelompok bayangan bertindak sebagai penyandang dana dan pendukung kampanye. Sebagai imbalan, mereka memperoleh ''perlindungan politik'', pasokan dana, serta lisensi atau tender proyek pascapilkada.

Dua faktor itulah yang kemudian mendorong terciptanya hubungan patron-client. Sebagai patron, kandidat terpilih memberikan kemudahan akses terhadap sumber daya finansial dan nonfinansial. Giliran client yang sebelumnya menjadi pendukung berubah menjadi penerima manfaat dari pilihan-pilihan kebijakan kandidat terpilih selama menjabat.

Setelah rangkaian pilkada 2005, sejumlah studi mengidentifikasi fakta-fakta keterlibatan politik birokrasi dalam pilkada dan pemilu legislatif. Salah satunya studi Indonesia Corruption Watch (ICW). Bersama jaringan kerja di empat daerah (Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Jogjakarta), ICW menemukan 54 indikasi pelanggaran ketentuan tentang fasilitas jabatan selama Pemilu 2009.

Pelibatan birokrasi terjadi dalam bentuk mobilisasi pengawai negeri sipil (PNS). Modus tersebut paling sering ditemukan. Modus lain berupa penggunaan kendaraan dinas, pelibatan pejabat daerah, penggunaan rumah ibadah, penggunaan rumah dinas, dan penggunaan program populer pemerintah (raskin).

Lebih dramatis lagi merujuk pada temuan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Hingga awal Mei, lembaga pengawas tersebut menemukan 1.599 pelanggaran pilkada 2010. Semua dihimpun berdasar temuan pada 16 pilkada yang telah dilangsungkan.

Di antara sekian banyak kasus tersebut, ditemukan keterlibatan birokrasi. Yakni, berupa penyalahgunaan fasilitas negara dan mobilisasi PNS. Berarti, masih akan ditemukan bentuk-bentuk ketidaknetralan birokrasi pada 228 pilkada lainnya sepanjang 2010.

Keterlibatan birokrasi dalam pilkada tentunya bertentangan dengan hukum negara yang menganut netralitas. Kekhawatiran munculnya subjektivitas birokrasi dalam pengambilan kebijakan dan pelayanan publik menjadi alasan utama. Karena itu, pelanggaran tersebut perlu disikapi serius dan ditindaklanjuti dengan sanksi administratif dan pidana yang adil.

Motif keterlibatan birokrasi dalam tim sukses pilkada demi meraih jabatan menjadikannya sebagai aktor. Sebab, birokrasi secara sadar menjadi bagian dari koalisi pemenangan kandidat. Birokrat tersebut rela bila program dan kegiatannya didompleng kepentingan politik yang berpotensi mengakumulasi dukungan publik terhadap kandidat kepala daerah.

Dalam kenyataannya, birokrasi sekaligus merupakan korban ketidaknetralan dalam pilkada. Sebagai korban, birokrasi dipaksa untuk tidak netral karena dipaksa ikut oleh atasannya untuk mendukung salah satu kandidat.

Korban lainnya adalah birokrat netral. Karena konsistensinya, jabatan mereka pada dinas, badan, dan kantor daerah tergusur, kemudian digantikan oleh birokrat yang masuk dalam koalisi pemenangan kandidat terpilih.

Netralitas birokrasi diperparah oleh pencalonan incumbent dalam pilkada. Kepala daerah atau wakil kepala daerah yang mencalonkan kembali memiliki akses strategis untuk menentukan pos-pos jabatan dalam birokrasi, sehingga memaksa PNS untuk tidak netral.

Sebagai korban, birokrasi akan terbelah tatkala dua incumbent maju kembali dalam pilkada berikutnya, namun tidak berpasangan. Saat salah satu kandidat incumbent kalah, birokrasi akan jadi korban persaingan tersebut. Butuh waktu untuk mengembalikan soliditas di antara PNS.

Faktanya, hingga pertengahan Mei 2010, 18 pilkada sudah digelar. Diawali di Kebumen, kemudian diikuti di Surakarta, Rembang, Boyolali, Kota Semarang, Serang, Kota Cilegon, Kutai Kartanegara, Buton Utara, Badung, Bangli, Kota Denpasar, Karangasem, Tabanan, Kota Ternate, Ngawi, dan Kabupaten Kediri. Di antara jumlah tersebut, setidaknya 10 daerah mengikutsertakan incumbent sebagai kandidat dan dua keluarga incumbent maju untuk bertarung dalam pilkada. (c5/agm)

Sabtu, 03 Juli 2010

such materials and better examples

Green Home Improvement Tip No.3


Use materials with a high recycled content.

The building industry consumes 90% of the UK's non-energy related minerals - using 420 million tonnes every year and creating 150 million tonnes of waste.

Using materials with a high recycled content is one way of reducing this impact. The good news is that many standard building products already contain significant amounts of such materials and better examples can be found by shopping around. For example, with chipboard (see pic) the standard recycled content of chipboard is 65%, but you can get up to 90%.

In our renovation, we used  instead of plasterboard for our walls (in the background in the pic). This is made from recycled newspapers, gypsum from power station emissions treatment and potato starch - a whopping 99% recycled material. It is more expensive than plasterboard but has better fire prtotection properties and you can hang heavy pictures easily as it will take screws directly.

If you want to choose your materials on this basis, . This is a daunting 158 pages of data, but if you go to p14, you can click on the link to the type of product you want, and then select whichever brand name appeals most.

Jumat, 02 Juli 2010

Taufik Hidayat Bahagia karena Kelahiran Anak Kedua

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Taufik Hidayat Bahagia karena Kelahiran Anak Kedua
PEBULU tangkis nomor satu Indonesia, Taufik Hidayat, sedang bahagia. Sang istri, Army Dianti Gumelar atau Ami Gumelar, melahirkan anak kedua di Rumah Sakit Asih, kawasan Blok M, Jakarta, Jumat lalu (11/6).

Bayi laki-laki dengan bobot 3,65 kilogram dan panjang 52 sentimeter tersebut lahir pukul 16.59. ''Dia (Taufik, Red) sangat bahagia dengan kelahiran anak keduanya,'' jelas Melati Karina, manajer Taufik, kemarin (12/6). Dia menambahkan, Taufik menitipkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang selalu memperhatikan dan mendoakan keluarganya.

Kondisi Ami Gumelar, yang juga putri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar, sehat dan stabil. Bayi itu diberi nama Nayottama Prawira Hidayat. ''Nama tersebut sudah disiapkan pihak keluarga sebelumnya,'' terang Melati.

Taufik yang kini berada di peringkat kelima BWF itu mengumumkan kelahiran anaknya tersebut dalam akun Twitter miliknya. Tidak lama kemudian, peraih medali emas dalam Olimpiade Athena pada 2004 dan juara dunia pada 2005 tersebut mendapat ucapan selamat dari pengguna situs pertemanan itu.

Nayottama adalah anak kedua Taufik dengan Ami Gumelar. Sebelumnya, pasangan yang menikah pada 4 Februari 2006 tersebut dikaruniai anak perempuan, yakni Natarina Alika Hidayat, yang lahir pada awal Agustus 2006. (nar/c10/dwi)

Kamis, 01 Juli 2010

Waspadai Angka Keramat 32

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Waspadai Angka Keramat 32
INI sangat urgent. Mendesak. Sampai-sampai ponokawan Togog dan Mbilung kedungsang-dungsang datang ke Amerta. Biasanya Togog-Mbilung berdinas menemani dan kasih nasihat tokoh-tokoh dari dunia hitam. Sekarang mereka malah berkunjung ke Amerta, tempat para Pandawa. Lha wong Raden Arjuna, penengah Pandawa, sampai sekarang sudah hampir 32 hari 32 malam tidak mau bicara. Bagaimana tidak dianggap urgent?

Gareng menduga, Risang Dananjaya itu sudah hampir 32 siang-ratri ndak berkenan ngomong lantaran malu kepada laki-laki serupa Ariel. Ndak gengsi gimana, wong Dananjaya ya Arjuna sudah kondang dijuluki lelananging jagad, lelakinya dunia. Ternyata di atas langit masih ada langit, di balik Gayus masih ada ber-Gayus-Gayus. Di muka bumi jagad keblat papat ini ternyata masih ada pejantan yang lebih jos ketimbang dirinya.

Adik Gareng, Petruk, meredakan suasana. Dia wadul ke Togog. Menurut Petruk, bisa jadi Ndoro Kombang Ali-ali itu puasa tanpa sabda sampai nyaris full 32 hari 32 malam bukan karena kehilangan muka pada lelaki bermuka Ariel. Ndoro Kombang Ali-ali jauh lebih unggul.

Ingat Dewi Larasati? Putri Kresna yang keahlian memanahnya jauh lebih unggul ketimbang Srikandi itu saja sudah tersensus sebagai istri Arjuna yang ke-41. Padahal abis sama Ning Laras, Cak Kombang Ali-ali ya alias Margono itu masih kawin lagi, kawin lagi. Ah, angka 32 nggak ada apa-apanya kalau dibanding jumlah istri Arjuna...

''Abdi te' nyaho' naon eta' angka 32 mah?'' Mbilung nyahut dalam bahasa Sunda. Maksudnya, dia ndak mudeng kok dari tadi ribut angka 32 itu kenapa. ''Aku malah pertama dengar angka 32 itu dari Mas Pramono Anung. Kan pekan lalu di DPR ada sidang Panitia Pengawas Century. Anggota DPR protes kok laporan Pak KPK, Pak Jaksa, Pak Polisi, ndak beres-beres padahal sudah datang ke DPR dua kali. Niat apa nggak sih mereka mengusut kasus Century sampai tuntas tas tas tas...? Nah, Mas Pram yang mimpin sidang bilang, ndak papa toh baru 2 kali, yang penting tidak sampai 32 kali...''

''Bagong?'' Togog sebagai kakak Semar, mewakili Semar meminta pendapat si bungsu ponokawan Pandawa.

''Wah, Pakde Togog, Ariel itu siapa saya ndak tahu. Biasanya kalau dipanggil Ariel itu nama aslinya Syahril. Padahal saya ndak tahu Syahril Djohan, SD, sekarang di mana. Dan apakah masih sungguh-sungguh diperiksa dalam perkara makelar kasus. Yang masih dikuyo-kuyo kan SD yang lain, Susno Duadji. Terus soal Century saya juga sudah lupa, apa itu. Kesuwen. Kelamaan. Jadi saya no comment saja, Pakde.''

''Kalau soal angka 32, Gong?''

''Nah, kalau soal angka itu saya inget persis, Pakde. Itulah jumlah tahun ketika Pak Harto berkuasa. Total jenderal keseluruhannya 32 warsa. Ini kita hitung sejak 1966 sampai 1998.''

***

Atas nama Semar, dari berbagai masukan, Togog menyimpulkan pandangan baru. Raden Mintaraga alias Arjuna, menurut Togog, tidak prihatin lantaran merasa kalah pamor pada Ariel. Sang Palguna itu berpuasa bicara selama hampir 32 hari 32 malam lantaran ingin menghayati betapa kuat dan berwibawanya pemerintahan Pak Harto selama 32 tahun.

Seburuk-buruknya zaman Pak Harto, mana mungkin hakim ndak patheken pada pertimbangan presiden yang disokong aspirasi masyarakat. Ingat kan? Waktu itu Pak Presiden minta agar Bibit-Chandra dibebaskan dari kasus dugaan pemerasan terhadap Anggodo. Rakyat mendukung. Dukungan diperkuat oleh Tim 32 dibagi 4 yaitu Tim 8. Maka pemimpin KPK itu bisa kembali aktif jadi komandan kesatuan tempur pada korupsi.

Satu-satunya kantor yang digadang-gadang rakyat bisa mengusut kasus Century kan KPK. Orang-orang sudah ndak percaya kepada kejaksaan dan kepolisian. Eh, sekarang pengadilan memenangkan Anggodo. Artinya Bibit-Chandra akan diseret kembali ke pengadilan. Kantor KPK akan kembali kosong. Musnah sudah harapan masyarakat agar kasus Century diusut secara tuntas tas tas tas....

Tunggu dulu...Limbuk dan Cangik datang tergopoh-gopoh. Pembacaan kesimpulan oleh Togog terhenti. Ponokawan Limbuk yang disertai emaknya itu menangis lantaran gagal berfoto dengan Presiden Obama di Indonesia. Dia cuma punya potret bareng Obama di Amrik.

Napas Limbuk masih tersengal-sengal karena tangis, dan kembang-kempis karena berlarian jauh dari kantornya di Astina.

''Kebangeten Kang Obama itu,'' kata Limbuk. ''Sudah dua kali dia mblenjani janji akan datang menengok saya. Padahal kurang apa saya menjaga perasaan Obama. Saya tahu dia dan para leluhurnya sangat tergantung fulus Yahudi. Makanya pas Israel menyerang kapal bantuan kemanusiaan ke Palestina, pas pemimpin negara-negara lain mengutuk Israel, saya nahaaaaan supaya tidak mengutuk Israel.''

Jeda tangisan. Setelah itu Limbuk berlanjut, ''Saya tidak ngutuk Israel karena saya takut nyakiti perasaan Obama. Harga diri saya sudah saya gadaikan demi Obama. Eh, masih juga Obama batal copy darat dengan saya. Dua kali gagal lagi deh cita-cita saya untuk memamerkan foto saya meluk Obama di Indonesia kepada Pak SBY...hiks..hiks...hiks...''

''Tenang, Mbuk,'' hibur Bagong. ''Baru batal 2 kali. Belum 32 kali...''

***

Ternyata berita acara Togog harus diperbaiki. Kedatangan Limbuk meski semula cuma mau curhat atas batalnya Obama ke Indonesia sebanyak 32 dibagi 16 kali alias 2 kali, ternyata juga membawa info penting dari juragannya di Astina, Dewi Banuwati. Kekasih gelap Arjuna itu bilang, sesungguhnya Arjuna menyesal. Kenapa waktu zaman mereka masih hot-hot-nya pacaran belum musim kamera video. Akibatnya Arjuna nggak bisa pamer bukti.

Jadi bukan soal angka ''32'' itu yang biangkerok masalah buat Arjuna. Wong waktu Julio Iglesias didesas-desuskan pernah tidur dengan 3.000 perempuan, Arjuna juga menter kok. Tenang-tenang saja. Karena penyanyi dari Amerika Latin itu tak sanggup menunjukkan bukti rekaman video.

Anehnya, Cangik, sama-sama dari Astina dan dari sumber yang satu, Dewi Banuwati, Permaisuri Raja Duryudana, punya info penting yang berbeda. Konon menurut Banuwati, kekasih gelapnya diam saja prihatin selama 32 hari 32 malam karena video porno dipakai untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Sekarang berita-berita tentang rentetan Gayus dan mafia perpajakan ketutup soal video porno.

Risang Dananjaya, menurut Banuwati, adalah tokoh yang kepekaan sosialnya tinggi sekali. Dananjaya prihatin, berita-berita penyergapan teroris sudah tak mampu lagi mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu ketidakadilan yang lain termasuk soal Century. Maka dialihkanlah kepedulian masyarakat kepada pornografi. Nanti kalau video porno sudah tidak mempan lagi mengalihkan perhatian masyarakat pada isu-isu sosial, kita akan memerlukan pengalihan apa lagi?

Itulah yang membuat Dananjaya prihatin.

***

Keprihatinan orang biasa mungkin tak menimbulkan apa-apa. Lain halnya kalau yang nandang sungkawa tokoh spiritual sekelas Arjuna. Kahyangan Suralaya geger. Batara Guru penguasa kahyangan tersebut segera memerintahkan Batara Indra turun ke Mayapada, menemui Arjuna.

Dulu waktu nyambangi Arjuna sebagai Begawan Ciptaning di gua Mintaraga, Batara Indra menyamar pandita tua, Resi Padya. Sekarang Indra menyamar sebagai murid sekolah dasar yang sedang kesengsem video porno di telepon genggamnya.

Dulu Resi Padya menguji Arjuna dengan angka-angka. Arjuna disuruh menebak jumlah butir beras yang digenggam Resi Padya dan apa makna jumlah tersebut. Sekarang, bocah sekolah dasar samaran Batara Indra pun menggladi Arjuna tentang apa itu angka 32. Ah, Arjuna menjawabnya dengan tangkas.

''Angka 32 itu keramat, wingit, karena diotak-atik dengan cara apa pun tetap punya makna. Lihatlah 3 tambah 2 itu lima. Panca wiwijangan. Indra kita berjumlah lima. Itu yang wajib kita pertimbangkan. Lalu 3 kali 2 itu enam. Sad wiwijangan. Itu yang namanya krenteging ati, firasat. Itulah tambahan pertimbangan buat kita. Dan tahukah kamu, Le, bocah sekolah dasar, 32 dibagi 8 sama dengan 4...ada 8 ada 4...8,4 triliun...itulah yang diusulkan jadi dana aspirasi anggota DPR...''

''Hahaha...Jangan guyon, Oom Arjuna,'' kata si murid sekolah dasar, lalu matanya kembali ke video porno di HP-nya.

''Aku serius. Kembali ke 32. Sadarkah kamu, 3 pangkat 2 itu 9. Itulah jumlah lubang pada setiap insan, babahan hawa sanga, yang harus kita kendalikan saat meditasi. Panca indra dan firasat harus kita pertimbangkan tapi bukan segala-galanya. Keheningan kalbu saat kita menguasai babahan hawa sanga justru harus menjadi komandan untuk mengarahkan panca indra dan firasat dalam menanggapi apa pun termasuk soal video porno. Maka, hei bocah, lewat puasaku ini aku minta bantuanmu untuk menggugah kesadaran masyarakat agar jembar wawasannya dalam menanggapi video porno...''

''Ah, Oom Arjuna, aku cuma bocah SD, apa dayaku?''

''Jangan mungkir. Kembali ke 32. Angka 3 dikurangi 2 jadi 1. Itulah satu-satunya wujud yang kini ada di depanku: Batara Indra.''

Bocah SD ber-HP video porno itu badar jadi aslinya, Batara Indra, dan merangkul Arjuna. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com